MediaKada | Tradisi berburu takjil di bulan Ramadan kembali menghadirkan suasana meriah di sejumlah titik keramaian di kawasan Kelapa Dua. Selain di Jalan Panjang Arteri Kelapa Dua yang setiap sore dipenuhi ratusan warga, terdapat pula beberapa lokasi lain yang tak kalah ramai. Jalan Raya Kelapa Dua RT 002/08, tepat di depan SDN Kelapa Dua 01 Pagi, menjadi salah satu pusat kuliner dadakan yang selalu dipadati pembeli. Begitu pula sepanjang Jalan H. Kelik Kelapa Dua, deretan pedagang takjil menjajakan aneka hidangan khas Ramadan.
Warga yang datang tidak hanya sekadar membeli makanan untuk berbuka, tetapi juga menikmati suasana ngabuburit yang penuh kebersamaan. Beragam menu ditawarkan, mulai dari gorengan, kolak pisang, biji salak, bubur sumsum, es pisang hijau, kue basah berwarna-warni, hingga minuman segar serta makanan berbuka lainnya.
Kehadiran pedagang musiman ini seolah menjadi magnet yang menghidupkan suasana Ramadan di tengah masyarakat.Aktivitas jual beli ini memberikan nilai lebih bagi pelaku UMKM, dan memberikan kesempatan untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan. Ramadan pun bukan sekadar momentum ibadah, melainkan juga ruang tumbuh bagi ekonomi rakyat.
Takjil, yang secara harfiah berarti “menyegerakan,” awalnya merujuk pada anjuran untuk segera membatalkan puasa. Namun, dalam keseharian masyarakat Indonesia, istilah ini telah bergeser makna menjadi makanan atau minuman ringan yang dikonsumsi saat berbuka. Meski bisa berupa apa saja, takjil lebih sering dipahami sebagai hidangan khas Ramadan yang hanya muncul di bulan suci.
Fenomena ramainya lokasi berburu takjil di Kelapa Dua menunjukkan bagaimana tradisi kuliner Ramadan bukan sekadar soal makanan, melainkan juga tentang interaksi sosial, kebersamaan, dan atmosfer khas yang selalu dirindukan setiap tahun.
(LMK-08 Kelapa dua)
Sosialisasi Teknologi Wolbachia Pengendalian DBD di RW 08 Kelapa Dua